Proposal Penawaran Catering Sekolah
Office : Banyuanyar Rt 03/VI Banjarsari Surakarta Solo 57137
Mundu Rt 03/VI Selokaton Gondangrejo Karanganyar 57183 3
Telp : 085728836685 atau 08562832973
An : Fadhilah
begitu banyak rahasia di kehidupan dunia ni, akankah kita mampu menguak rahasia2 tu....
Friday, June 10, 2011
Thursday, September 16, 2010
Thursday, August 5, 2010
lentera jiwa
Lama sudah ku mencari
Apa yg hendak ku lakukan
Segala titik ku jelajahi
Tiada satu pun ku mengerti
Tersesatnya aku di samudra hidup
Kata-kata yang ku baca
Terkadang tak mudah ku cerna
Bunga-bunga & rerumputan
Bilakah kau tau jwbnya
Inikah jalanku
Inikah takdirku
Ku biarkn ku mengikuti
Suara dalam hati
Yang slalu membunyikan cinta
Ku percaya & ku yakini
Dunia nurani
Menjadi petunjuk jalanku
Lentera jiwa ku..,
Apa yg hendak ku lakukan
Segala titik ku jelajahi
Tiada satu pun ku mengerti
Tersesatnya aku di samudra hidup
Kata-kata yang ku baca
Terkadang tak mudah ku cerna
Bunga-bunga & rerumputan
Bilakah kau tau jwbnya
Inikah jalanku
Inikah takdirku
Ku biarkn ku mengikuti
Suara dalam hati
Yang slalu membunyikan cinta
Ku percaya & ku yakini
Dunia nurani
Menjadi petunjuk jalanku
Lentera jiwa ku..,
bukan akhir dunia
Begitu banyak kisah yang datang silih berganti
Tak henti mewarnai setiap jejak langkahmu
Begitu pun adanya kepingan makna dirimu
Yang terserak diantara lembaran kisah hidupmu
Dan kini kau terjebak ditengah riuh dunia
Terhimpit diantara hitam putih kehidupan
Sementara sang waktu tak akan mau menunggu
Seiring denyut hidup
Ia kan terus berdetak
Saat langkahmu terhenti
Dan gelap menyelimuti hatimu
Sebaiknya kini engkau mulai berenang
Sebelum kau terhanyut deras arus kehidupan
Dan jangan pernah merasa
Inilah akhir dunia
Seolah tak ada lagi jalan untuk kembali
Saat jiwa mu meredup
Saat kegelapan menyelimutimu
Sisakan satu ruang untuk bercermin
Dan dengarkan mata hatimu berkata
Jangan pernah berhenti mengejar semua MIMPI mu
Karena ini bukanlah sebuah akhir dunia
Bukanlah akhir dunia......
Bukanlah akhir dunia
Tak henti mewarnai setiap jejak langkahmu
Begitu pun adanya kepingan makna dirimu
Yang terserak diantara lembaran kisah hidupmu
Dan kini kau terjebak ditengah riuh dunia
Terhimpit diantara hitam putih kehidupan
Sementara sang waktu tak akan mau menunggu
Seiring denyut hidup
Ia kan terus berdetak
Saat langkahmu terhenti
Dan gelap menyelimuti hatimu
Sebaiknya kini engkau mulai berenang
Sebelum kau terhanyut deras arus kehidupan
Dan jangan pernah merasa
Inilah akhir dunia
Seolah tak ada lagi jalan untuk kembali
Saat jiwa mu meredup
Saat kegelapan menyelimutimu
Sisakan satu ruang untuk bercermin
Dan dengarkan mata hatimu berkata
Jangan pernah berhenti mengejar semua MIMPI mu
Karena ini bukanlah sebuah akhir dunia
Bukanlah akhir dunia......
Bukanlah akhir dunia
Thursday, April 22, 2010
menerobos Gelap
menerobos gelap
ku ikrarkan hati untuk maju melangkah pergi
menerobos dinding-dinding gelap ini
tak ku pertanyakan lagi seperti waktu itu
pernah ku terjebak tanpa satu teman menemaniku
ketika (selagi) aku tenggelam
dalam kesunyian ini
ku coba mendamaikan hati ku
sepatutnya aku mampu melaluinya
menjejakkan kaki ku meretaskan jiwa
(melangkah kaki ku menuju cahaya)
tegaskan diri ku untuk melewatkan hari
dengan keyakinan hati aku ku miliki
biar aku ikhlaskan peluh ku basahi jiwa ku
sirami hati ku..
aku akan terus melangkah
ku ikrarkan hati untuk maju melangkah pergi
menerobos dinding-dinding gelap ini
tak ku pertanyakan lagi seperti waktu itu
pernah ku terjebak tanpa satu teman menemaniku
ketika (selagi) aku tenggelam
dalam kesunyian ini
ku coba mendamaikan hati ku
sepatutnya aku mampu melaluinya
menjejakkan kaki ku meretaskan jiwa
(melangkah kaki ku menuju cahaya)
tegaskan diri ku untuk melewatkan hari
dengan keyakinan hati aku ku miliki
biar aku ikhlaskan peluh ku basahi jiwa ku
sirami hati ku..
aku akan terus melangkah
Monday, February 15, 2010
13 feb 2009 08.40 WIB, terlihat di layar hp q “dil yen kw dowload, q titip vidi aldino nuansa bning yo he..” sms terakhinya sengaja tak ku balas karena sore aku berencana kesana menengok setelah 2 minggu ia dirawat di rumah sakit. Sore itu aku datang kerumahnya, ia duduk di sofa birunya (badannya menyusut semenjak dokter mengatakan ia mengidap penyakit radang paru-paru). Senyumnya yang khas menyapa kedatangan ku, ia pun berkata “tumben sore2 kesini, mank dari mana?” berbeda dari biasanya, aku datang ke sana disaat waktu-waktu luang sebelum rapat atau disela-sela jadwal kuliah. Namun, ketika itu aku benar-benar dari rumah dan sudah merencanakan sebelumnya untuk kesana (ternyata itulah pertemuan terakhir kita). Mulai canda tawa menghiasi sore itu dengan sedikit kekonyolan membumbui crita-crita kita. Kita pun mulai merencanakan misi nya untuk mulai memakai gaun muslimah nya. Tak terasa adzan maghrib berkumandang, saatnya aku harus kembali ke sangkarnya (manknya burung...). “sebelum aku pulang ni, tak puterin lagu ya” ucapku sambil mencoba memutar lagu itu dari hp ku. Antusias ia ingin mendengarkan lagu tersebut, sayangnya lagu nya ga’ bisa diputer (padahal di komputerku bisa, hmm...trnyata da yang salah dg programnya). Oke lah..., akhirnya ku janjikan bsok senin untuk memutarkan lagu itu.
Wahai pemilik nyawa ku
Betapa lemah diri ku ini
Berat ujian dari Mu
Ku pasrahkan semua pada Mu
Tuhan...
baru ku sadar indah nikmat sehari itu
tak pandai aku bersyukur
kini ku harapkan cinta Mu
Kata kata cinta terucap indah
Mengalir berdzikir di kidung doa ku
Sakit yang kurasa kian jadi penawar dosa ku
Butir buti cinta air mata ku
Teingat yang kau beri utnuk ku
Ampuni khilaf dan salah slama ini Ya Illahi
Muhasabah cinta ku
Tuhan....
kuatkan aku lindungi ku dari putus asa
Jika ku harus mati pertemukan aku dengan Mu
(Edcoustic)
Sabtu dan Minggu terasa cepat saja hari itu, di mana aku bersama nak2 himapsi mulai sibuk dengan persiapan study visit ke Semarang dan Yogja. Senin tanggal 16 Februari aku harus ke semarang ikut study visit yang diadakan himapsi. Teringat akan janji ku padanya di hari senin, aku pun berencana untuk menggantinya di hari selasa.
Minggu menuju Senin dini hari hp ku bunyi penanda ada sms masuk. Tak ada nama yang tertera hanyalah no hp ja dengan sebuah pesan “ni adiknya mbak atik, mbak atik pun mboten wonten” singkat tapi sepintas terbaca oleh ku.
Senin pagi, aku bergegas mempersiapkan diri untuk berangkat ke Semarang, karena jam 6 sudah harus berangkat padahal sebelum berangkat aku harus nganter ibu ku tersayang. Aku teringat sms yang ku buka tadi malam, ku lihatkan pesan itu pada kakak ku sambil berkata “mbak, mbak ati pun mboten wonten” kakak ku terperanjak mendengar itu. Kami sekeluarga mengira bahwa mbak atik temen kakak ku yang ga’ da (dengan berpikiran adiknya mbak atik tau nomer ku karena dia teman ku di SMP). Kakak ku pun mencoba untuk menelpon no itu ketika sampai di kampusku karena mengantar diri ku dan menanyakan sebab musabab nya, dari sebrang sana menjawab bahwa mbak atik kambuh radang paru-parunya. aku yang mendengar pembicaraan tersebut dengan sangat bodohnya “og kya’ meymey ya mbak” ucapku ke kakak ku, kakak ku menimbali “tapi badannya atik seger gitu beda dengan meymey, og ganas men sih”.
Tmen-tmen memanggilku untuk segera masuk bis, karena akan segera berangkat ke semarang. Sempat aku bercerita tentang berita duka itu ke teman-teman ku, ya hanya sekedar menceritakan kalau teman kakak ku da yang meninggal karena radang paru-paru.
Sesampai UNDIP, jiwa ni masih riang dengan sapaan yang mengesankan dari teman-teman UNDIP. Waktu menunjukan angka 12 siang, waktunya berpamitan dan melanjutkan perjalanan ke UNISULA, ketika itu juga sms datang dari kakak ku yang sebelumnya menoba telpon aku berulang kali tapi nomer ku tak bisa dihubungi, sampai akhirnya sms itu hadir. Mata ku terbelalak membaca pesan itu bagai aku tersadar dalam tidur ku, aku berusaha tak percaya dan meragukannya. Namun, itu benar adanya setelah aku telpon nomer tanpa nama itu. Aku tak mampu menahan tangis mendengar suara dari sebrang. “mbak dimana? Ni sudah selesai”. Perjalanan menuju UNISULA mulai terusik dengan tangisan ni. Sapaan yang benar-benar lebih mengesankan dari UNISULA tak mampu mencairkan perih ini. Aku pun berencana untuk turun dijalan dan kembali ke solo dengan naik bis umum. Tetapi, apalah daya tak kuasa aku berencana. Ku coba menghubungi teman-teman kami, ternyata tak ada yang tau karena sumber berita itu dari ku. Mereka juga melewatkan pemakaman itu. Maaf..., ni salah ku (sungguh ni kebodohan ku...). Andai saja berita itu tersampaikan dengan benar dari ku, mungkin aku tak kan berada di semarang dan aku bisa melihat terakhir kalinya, bukan hanya aku yang bisa teman-teman pun juga. Namun, hanya tangisan di sepanjang jalur semarang-solo yang membersamai ku.
Jam 9 malam sesampainya aku di kampus, lansung ku lanjutkan perjalanan ke rumahnya. Sesampainya aku berdiri terpaku di depan rumahnya (sambil ku berjanji aku tak akan menangis untuknya). Ibunya memanggilku dan kurasakan pelukan eratnya membersamai tangisan kami. Kini aku bukan seorang yang tegar seperti ia bilang pada ku. Aku hanya manusia biasa yang kuat karena orang-orang disekitarku.
23.30 WIB ku diantar pulang. Sungguh air mata ini ingin menetes lagi sesampainya di rumah melihat ibu, kakak, bapak, adik melewatkan jam tidurnya menanti kedatangan ku. Tak lama kemudian dering telpon pun berbunyi.......
Kini terasa sungguh
Semakin engkau jauh semakin terasa dekat
Akan ku kembangkan
Kasih yang engkau tanam di dalam hati ku
Wahai pemilik nyawa ku
Betapa lemah diri ku ini
Berat ujian dari Mu
Ku pasrahkan semua pada Mu
Tuhan...
baru ku sadar indah nikmat sehari itu
tak pandai aku bersyukur
kini ku harapkan cinta Mu
Kata kata cinta terucap indah
Mengalir berdzikir di kidung doa ku
Sakit yang kurasa kian jadi penawar dosa ku
Butir buti cinta air mata ku
Teingat yang kau beri utnuk ku
Ampuni khilaf dan salah slama ini Ya Illahi
Muhasabah cinta ku
Tuhan....
kuatkan aku lindungi ku dari putus asa
Jika ku harus mati pertemukan aku dengan Mu
(Edcoustic)
Sabtu dan Minggu terasa cepat saja hari itu, di mana aku bersama nak2 himapsi mulai sibuk dengan persiapan study visit ke Semarang dan Yogja. Senin tanggal 16 Februari aku harus ke semarang ikut study visit yang diadakan himapsi. Teringat akan janji ku padanya di hari senin, aku pun berencana untuk menggantinya di hari selasa.
Minggu menuju Senin dini hari hp ku bunyi penanda ada sms masuk. Tak ada nama yang tertera hanyalah no hp ja dengan sebuah pesan “ni adiknya mbak atik, mbak atik pun mboten wonten” singkat tapi sepintas terbaca oleh ku.
Senin pagi, aku bergegas mempersiapkan diri untuk berangkat ke Semarang, karena jam 6 sudah harus berangkat padahal sebelum berangkat aku harus nganter ibu ku tersayang. Aku teringat sms yang ku buka tadi malam, ku lihatkan pesan itu pada kakak ku sambil berkata “mbak, mbak ati pun mboten wonten” kakak ku terperanjak mendengar itu. Kami sekeluarga mengira bahwa mbak atik temen kakak ku yang ga’ da (dengan berpikiran adiknya mbak atik tau nomer ku karena dia teman ku di SMP). Kakak ku pun mencoba untuk menelpon no itu ketika sampai di kampusku karena mengantar diri ku dan menanyakan sebab musabab nya, dari sebrang sana menjawab bahwa mbak atik kambuh radang paru-parunya. aku yang mendengar pembicaraan tersebut dengan sangat bodohnya “og kya’ meymey ya mbak” ucapku ke kakak ku, kakak ku menimbali “tapi badannya atik seger gitu beda dengan meymey, og ganas men sih”.
Tmen-tmen memanggilku untuk segera masuk bis, karena akan segera berangkat ke semarang. Sempat aku bercerita tentang berita duka itu ke teman-teman ku, ya hanya sekedar menceritakan kalau teman kakak ku da yang meninggal karena radang paru-paru.
Sesampai UNDIP, jiwa ni masih riang dengan sapaan yang mengesankan dari teman-teman UNDIP. Waktu menunjukan angka 12 siang, waktunya berpamitan dan melanjutkan perjalanan ke UNISULA, ketika itu juga sms datang dari kakak ku yang sebelumnya menoba telpon aku berulang kali tapi nomer ku tak bisa dihubungi, sampai akhirnya sms itu hadir. Mata ku terbelalak membaca pesan itu bagai aku tersadar dalam tidur ku, aku berusaha tak percaya dan meragukannya. Namun, itu benar adanya setelah aku telpon nomer tanpa nama itu. Aku tak mampu menahan tangis mendengar suara dari sebrang. “mbak dimana? Ni sudah selesai”. Perjalanan menuju UNISULA mulai terusik dengan tangisan ni. Sapaan yang benar-benar lebih mengesankan dari UNISULA tak mampu mencairkan perih ini. Aku pun berencana untuk turun dijalan dan kembali ke solo dengan naik bis umum. Tetapi, apalah daya tak kuasa aku berencana. Ku coba menghubungi teman-teman kami, ternyata tak ada yang tau karena sumber berita itu dari ku. Mereka juga melewatkan pemakaman itu. Maaf..., ni salah ku (sungguh ni kebodohan ku...). Andai saja berita itu tersampaikan dengan benar dari ku, mungkin aku tak kan berada di semarang dan aku bisa melihat terakhir kalinya, bukan hanya aku yang bisa teman-teman pun juga. Namun, hanya tangisan di sepanjang jalur semarang-solo yang membersamai ku.
Jam 9 malam sesampainya aku di kampus, lansung ku lanjutkan perjalanan ke rumahnya. Sesampainya aku berdiri terpaku di depan rumahnya (sambil ku berjanji aku tak akan menangis untuknya). Ibunya memanggilku dan kurasakan pelukan eratnya membersamai tangisan kami. Kini aku bukan seorang yang tegar seperti ia bilang pada ku. Aku hanya manusia biasa yang kuat karena orang-orang disekitarku.
23.30 WIB ku diantar pulang. Sungguh air mata ini ingin menetes lagi sesampainya di rumah melihat ibu, kakak, bapak, adik melewatkan jam tidurnya menanti kedatangan ku. Tak lama kemudian dering telpon pun berbunyi.......
Kini terasa sungguh
Semakin engkau jauh semakin terasa dekat
Akan ku kembangkan
Kasih yang engkau tanam di dalam hati ku
Tuesday, May 12, 2009
disleksia
Disleksia (bahasa Inggris: dyslexia) adalah sebuah kondisi ketidakmampuan belajar pada seseorang yang disebabkan oleh kesulitan pada orang tersebut dalam melakukan aktifitas membaca dan menulis.
Perkataan disleksia berasal dari bahasa Yunani δυς- dys- ("kesulitan untuk") dan λέξις lexis ("huruf" atau "leksikal").
Pada umumnya keterbatasan ini hanya ditujukan pada kesulitan seseorang dalam membaca dan menulis, akan tetapi tidak terbatas dalam perkembangan kemampuan standar yang lain seperti kecerdasan, kemampuan menganalisa dan juga daya sensorik pada indera perasa.
Terminologi disleksia juga digunakan untuk merujuk kepada kehilangan kemampuan membaca pada seseorang dikarenakan akibat kerusakan pada otak. Disleksia pada tipe ini sering disebut sebagai "Alexia". Selain mempengaruhi kemampuan membaca dan menulis, disleksia juga ditenggarai juga mempengaruhi kemampuan berbicara pada beberapa pengidapnya.
Disleksia tidak hanya terbatas pada ketidakmampuan seseorang untuk menyusun atau membaca kalimat dalam urutan terbalik tetapi juga dalam berbagai macam urutan, termasuk dari atas ke bawah.
Tidak semua anak disleksia memperlihatkan seluruh gejala, yang mencirikan adanya disleksia ringan, sedang, hingga berat.
Sebagian ahli membagi disleksia sebagai visiual, disleksia auditori dan disleksia kombinasi (visual-auditori). Sebagian ahli lain membagi disleksia berdasarkan apa yang dipersepsi oleh mereka yang mengalaminya yaitu persepsi pembalikan konsep (suatu kata dipersepsi sebagai lawan katanya), persepsi disorientasi vertical atau horizontal (huruf atau kata berpindah tempat dari depan ke belakang atau sebaliknya, dari barisan atas ke barisan bawah dan sebaliknya), persepsi teks terlihat terbalik seperti di dalam cermin, dan persepsi di mana huruf atau kata-kata tertentu jadi seperti “ menghilang.”
Siapa saja yang dapat mengalami disleksia?
Siapa saja, tanpa memandang jenis kelamin, suku bangsa atau latar belakang sosio-ekonomi-pendidikan, bisa mengalami disleksia, namun riwayat keluarga dengan disleksia merupakan factor risiko terpenting karena 23-65% orangtua disleksia mempunyai anak disleksia juga.
Pada awalnya anak lelaki dianggap lebih banyak menyandang disleksia, tapi penelitian – penelitian terkini menunjukkna tidak ada perbedaan signifikan antara jumlah laki dan perempuan yang menglami disleksia. Namun karena sifat perangai laki-laki lebih kentara jika terdapat tingkah laku yang bermasalah, maka sepertinya kasus disleksia pada laki-laki lebih sering dikenali dibandingkan pada perempuan.
Bisa sembuh kah?
Penelitian retrospektif menunjukkan disleksia merupakan suatu keadaan yang menetap dan kronis. “Ketidak mampuannya” di masa anak yang nampak seperti “menghilang” atau “berkurang” di masa dewasa bukanlah kareana disleksia nya telah sembuh namun karena individu tersebut berhasil menemukan solusi untuk mengatasi kesulitan yang diakibatkan oleh disleksia nya tersebut.
Mengingat demikian “kompleks”nya keadaan disleksia ini, maka sangat disarankan bagi orang tua yang merasa anaknya menunjukkan tanda-tanda seperti tersebut di atas, agar segera membawa anaknya berkonsultsi kepada tenaga medis profesional yang kapabel di bidang tersebut. Karena semakin dini kelainan ini dikenali, semakin “mudah” pula intervensi yang dapat dilakukan, sehingga anak tidak terlanjur larut dalam kondisi yang lebih parah.
Apa yang dapat dilakukan
• Adanya komunikasi dan pemahaman yang sama mengenai anak disleksia antara orang tua dan guru
• Anak duduk di barisan paling depan di kelas
• Guru senantiasa mengawasi / mendampingi saat anak diberikan tugas, misalnya guru meminta dibuka halaman 15, pastikan anak tidak tertukar dengan membuka halaman lain, misalnya halaman 50
• Guru dapat memberikan toleransi pada anak disleksia saat menyalin soal di papan tulis sehingga mereka mempunyai waktu lebih banyak untuk menyiapkan latihan (guru dapat memberikan soal dalam bentuk tertulis di kertas)
• Anak disleksia yang sudah menunjukkkan usaha keras untuk berlatih dan belajar harus diberikan penghargaan yang sesuai dan proses belajarnya perlu diseling dengan waktu istirahat yang cukup.
• Melatih anak menulis sambung sambil memperhatikan cara anak duduk dan memegang pensilnya. Tulisan sambung memudahkan murid membedakan antara huruf yang hampir sama misalnya ’b’ dengan ’d’. Murid harus diperlihatkan terlebih dahulu cara menulis huruf sambung karena kemahiran tersebut tidak dapat diperoleh begitu saja. Pembentukan huruf yang betul sangatlah penting dan murid harus dilatih menulis huruf-huruf yang hampir sama berulang kali. Misalnya huruf-huruf dengan bentuk bulat: ”g, c, o, d, a, s, q”, bentuk zig zag: ”k, v, x, z”, bentuk linear: ”j, t, l, u, y”, bentuk hampir serupa: ”r, n, m, h”.
• Guru dan orang tua perlu melakukan pendekatan yang berbeda ketika belajar matematika dengan anak disleksia, kebanyakan mereka lebih senang menggunakan sistem belajar yang praktikal. Selain itu kita perlu menyadari bahwa anak disleksia mempunyai cara yang berbeda dalam menyelesaikan suatu soal matematika, oleh karena itu tidak bijaksana untuk ”memaksakan” cara penyelesaian yang klasik jika cara terebut sukar diterima oleh sang anak.
• Aspek emosi. Anak disleksia dapat menjadi sangat sensitif, terutama jika mereka merasa bahwa mereka berbeda dibanding teman-temannya dan mendapat perlakukan yang berbeda dari gurunya. Lebih buruk lagi jika prestasi akademis mereka menjadi demikian buruk akibat ”perbedaan” yang dimilikinya tersebut. Kondisi ini akan membawa anak menjadi individu dengan ”self-esteem” yang rendah dan tidak percaya diri. Dan jika hal ini tidak segera diatasi akan terus bertambah parah dan menyulitkan proses terapi selanjutnya. Orang tua dan guru seyogyanya adalah orang-orang terdekat yang dapat membangkitkan semangatnya, memberikan motivasi dan mendukung setiap langkah usaha yang diperlihatkan anak disleksia. Jangan sekali-sekali membandingkan anak disleksia dengan temannya, atau dengan saudaranya yang tidak disleksia.
Referensi :
• J.H. Menkes, H.B. Sarnat B.L. Maria (2005). Learning disabilities, dalam: JH. Menkes, HB. Sarnat (penyunting). Child neurology, edisi ke-7. Lippincott Williams and Wilkins, Philadelphia.
• Sally, Shaywitz, Bennett (2006). Dyslexia, dalam: KF. Swaiman, S. Ashwal, DM. Ferreier (penyunting). Pediactric neurology principles and practice, volume 1, edisi ke-4, Mosby, Philadelphia
• S. Devaraj, S. Roslan (2006). Apa itu disleksia, panduan untuk ibu bapa, guru, dan kaunselor, dalam S. Amirin (penyunting). PTS Profesional, Kuala Lumpur.
• G. Reid (2004). Dyslexia: A complete guide for parents. John Wiley and Sons, Ltd, England
• R. Frank (2002). The secret life of dyslexic child, a practical guide for parents and educators. The Philip Lief Group, Inc, 2002.
Terapi Baru bagi Penderita Disleksia
JAKARTA - Ahli medis menemukan terapi baru bagi para penderita disleksia alias kesulitan membaca dan menulis. Anak yang menderita disleksia sama sekali tidak bodoh. Sebab banyak penderita disleksia yang akhirnya menjadi orang sukses.
Kemampuan membaca dan menulis kerap menjadi acuan para orangtua dalam mengontrol kepandaian anaknya. ”Sudah bisa baca apa belum?” Demikian pertanyaan yang sering diajukan kepada seorang anak yang sudah mulai memasuki usia sekolah. Anak yang sudah bersekolah dan belum bisa lancar membaca dianggap bodoh atau tertinggal. Padahal bisa saja anak itu menderita disleksia, yakni gangguan membaca dan menulis akibat kelainan pada otak.
Jika pada anak normal kemampuan membaca sudah muncul sejak usia enam atau tujuh tahun, tidak demikian halnya dengan pasien disleksia. Sampai usia 12 tahun kadang mereka masih belum lancar membaca dan menulis. Bahkan sampai usia dewasa sekalipun mereka masih mengalami gangguan keduanya. Biasanya gangguan ini berupa kesalahan eja yang dilakukan terus-menerus secara konsisten. Seperti misalnya kata ”gajah” ducapkan menjadi ”gagah”. Atau kata ”pelajaran” menjadi ”perjalanan”. Belum pernah dicatat berapa tepatnya penderita disleksia di Indonesia karena memang kebanyakan orang tua tidak menyadarinya. Namun di Amerika Serikat (AS) sendiri ada lebih dari 40 juta orang, baik dewasa maupun anak-anak.
Kontroversial
Seorang jutawan pebisnis AS, Wynford Dore, juga mempunyai seorang anak perempuan yang menderita disleksia. Bahkan anak tersebut mulai mengalami depresi dan frustasi akibat tak bisa membaca dan menulis seperti anak seusianya. Akhirnya Dore mendirikan Dore Achievement Centers, sebuah yayasan yang merekrut semua ahli psikologi AS untuk khusus mempelajari ihwal disleksia. Yayasan ini akhirnya menemukan sebuah metode pengobatan yang terbilang baru dan kontroversial. Metode yang diklaim sudah membantu sebanyak 16.000 penderita disleksia sampai Inggris dan Australia ini berteori bahwa anak disleksia memiliki kekurangan pada aktivitas bagian otak yang bernama serebelum. Berlokasi di dasar otak, serebelum mengandung 50 persen sel saraf otak. Metode yang diajukan Dore adalah merancang latihan rutin setiap individu untuk menstimulasi daerah otak ini dengan sejumlah pembelajaran. Riset ini didukung oleh sejumlah ahli neurologi dari seantero AS. Namun tak semua setuju dengan metode tersebut.
”Apakah memang ada bukti bahwa aktivitas serebelum terlibat dalam kemampuan anak untuk membaca atau setidaknya menjadi pembaca yang lebih baik? Saya belum melihat bukti yang pasti,” komentar Prof. Sallu Shaywitz, psikolog dari Yale University, penulis Overcoming Dyslexia dan salah seorang ahli pengobatan disleksia seperti yang dilansir ABCNews Online baru-baru ini.
Shaywitz juga memperingatkan bahwa dibandingkan dengan terapi lain, program Dore menawarkan metode yang kurang penting. Cara seperti melakukan latihan untuk mengatasi masalah membaca sudah dipakai sejak lama, bahkan beberapa dekade silam. Versi terbaru dari teknik ini membutuhkan standar yang lebih tinggi.
Namun Dore berkeras bahwa terapi pengobatannya lumayan berhasil baik. ”Klien kami sering mengatakan bahwa mereka tak lagi mengalami gejala disleksia, mereka berhasil diobati,” ujarnya. Contoh pasien mereka adalah Michael dan Adam, anak usia 12 dan tujuh tahun yang mengikuti program tersebut selama 13 bulan dan telah menghabiskan biaya sekitar 4.000 dolar Amerika. Mereka mengikuti latihan seperti berdiri di atas papan bergoyang, melempar kantung dan mengayunkan bola selama sepuluh menit dua kali sehari. Kemampuan mereka memang mengalami peningkatan, terutama dalam hal membaca, sains dan matematika, subjek pelajaran yang kerap kurang mampu dipahami penderita disleksia. Menurut orang tua mereka, kepercayaan diri anak-anaknya juga mulai meningkat setelah mengikuti terapi.
Sebenarnya, apa itu disleksia? Seseorang yang menderita disleksia mengalami kesulitan dalam belajar membaca. Kelainan ini mungkin disebabkan oleh ketidakmampuan dalam menghubungkan antara lisan dan tertulis, atau kesulitan mengenal hubungan antara suara dan kata tertulis. Anak yang menderita disleksia yang belum diketahui, dapat merasa rendah diri karena kesulitan yang dialami dalam mengejar pelajaran dengan kawan-kawan sebaya. Kadang-kadang orang salah menduga bahwa anak yang menderita disleksia juga cacat jiwa.
Mayoritas Lelaki
Kalau seorang anak ditemui mulai punya kebiasaan membaca terlalu cepat hingga salah mengucapkan kata atau bahkan terlalu lambat dan terputus, maka itu adalah gejala disleksia. Sampai sekarang masih belum diketahui secara pasti apa penyebab gangguan ini. Yang jelas sebagian besar neurolog berpendapat ini merupakan faktor saraf atau otak, sama sekali bukan karena anak itu bodoh atau bahkan idiot seperti mayoritas pendapat orang.
Istilah disleksia berasal dari bahasa Yunani, yakni ”dys” yang berarti ”sulit dalam” dan lex (berasal dari legein, yang artinya ”berbicara”). Jadi, menderita disleksia berarti menderita kesulitan yang berhubungan dengan kata atau simbol-simbol tulis. Walau tidak menjalani pengobatan khusus, seorang penderita disleksia tidak akan selamanya menderita gangguan membaca dan menulis. Ketika pertumbuhan otak dan sel otaknya sudah sempurna, ia akan dapat mengatasinya.
Yang unik, sebagian besar penderita disleksia adalah kaum lelaki. Dr. Michael Rutter dari King’s College, London membuktikan bahwa jumlah murid lelaki di sekolah yang menderita disleksia setidaknya dua kali jumlah murid perempuan. Rutter dan rekan telah menganalisis lebih dari 10.000 anak-anak di Selandia Baru yang diikutkan dalam uji membaca standar. Usia anak-anak itu berkisar antara 7-15 tahun. Disleksia ditemukan pada 18 hingga 22 persen murid lelaki. Sedangkan pada murid perempuan hanya sekitar 8-13 persen saja.
Masih perlu dilakukan riset lanjutan untuk mengetahui penyebabnya. Namun berdasar diagnosis, gangguan kemampuan membaca pada anak lelaki disebabkan oleh kecenderungan mereka untuk bertingkah aneh-aneh dalam kelas ketika merasa frustasi pada pelajaran. Hasil temuan Rutter ini dipublikasikan dalam Journal of the American Medical Association, edisi terbaru.
Tapi kesimpulan tersebut ditepis oleh Sheldon Horowitz, direktur National Center for Learning Disabilities, berkomentar bahwa anak lelaki sesungguhnya tidak cenderung menderita disleksia.
Adakah yg tau atau punya anak disleksia????
Perkataan disleksia berasal dari bahasa Yunani δυς- dys- ("kesulitan untuk") dan λέξις lexis ("huruf" atau "leksikal").
Pada umumnya keterbatasan ini hanya ditujukan pada kesulitan seseorang dalam membaca dan menulis, akan tetapi tidak terbatas dalam perkembangan kemampuan standar yang lain seperti kecerdasan, kemampuan menganalisa dan juga daya sensorik pada indera perasa.
Terminologi disleksia juga digunakan untuk merujuk kepada kehilangan kemampuan membaca pada seseorang dikarenakan akibat kerusakan pada otak. Disleksia pada tipe ini sering disebut sebagai "Alexia". Selain mempengaruhi kemampuan membaca dan menulis, disleksia juga ditenggarai juga mempengaruhi kemampuan berbicara pada beberapa pengidapnya.
Disleksia tidak hanya terbatas pada ketidakmampuan seseorang untuk menyusun atau membaca kalimat dalam urutan terbalik tetapi juga dalam berbagai macam urutan, termasuk dari atas ke bawah.
Tidak semua anak disleksia memperlihatkan seluruh gejala, yang mencirikan adanya disleksia ringan, sedang, hingga berat.
Sebagian ahli membagi disleksia sebagai visiual, disleksia auditori dan disleksia kombinasi (visual-auditori). Sebagian ahli lain membagi disleksia berdasarkan apa yang dipersepsi oleh mereka yang mengalaminya yaitu persepsi pembalikan konsep (suatu kata dipersepsi sebagai lawan katanya), persepsi disorientasi vertical atau horizontal (huruf atau kata berpindah tempat dari depan ke belakang atau sebaliknya, dari barisan atas ke barisan bawah dan sebaliknya), persepsi teks terlihat terbalik seperti di dalam cermin, dan persepsi di mana huruf atau kata-kata tertentu jadi seperti “ menghilang.”
Siapa saja yang dapat mengalami disleksia?
Siapa saja, tanpa memandang jenis kelamin, suku bangsa atau latar belakang sosio-ekonomi-pendidikan, bisa mengalami disleksia, namun riwayat keluarga dengan disleksia merupakan factor risiko terpenting karena 23-65% orangtua disleksia mempunyai anak disleksia juga.
Pada awalnya anak lelaki dianggap lebih banyak menyandang disleksia, tapi penelitian – penelitian terkini menunjukkna tidak ada perbedaan signifikan antara jumlah laki dan perempuan yang menglami disleksia. Namun karena sifat perangai laki-laki lebih kentara jika terdapat tingkah laku yang bermasalah, maka sepertinya kasus disleksia pada laki-laki lebih sering dikenali dibandingkan pada perempuan.
Bisa sembuh kah?
Penelitian retrospektif menunjukkan disleksia merupakan suatu keadaan yang menetap dan kronis. “Ketidak mampuannya” di masa anak yang nampak seperti “menghilang” atau “berkurang” di masa dewasa bukanlah kareana disleksia nya telah sembuh namun karena individu tersebut berhasil menemukan solusi untuk mengatasi kesulitan yang diakibatkan oleh disleksia nya tersebut.
Mengingat demikian “kompleks”nya keadaan disleksia ini, maka sangat disarankan bagi orang tua yang merasa anaknya menunjukkan tanda-tanda seperti tersebut di atas, agar segera membawa anaknya berkonsultsi kepada tenaga medis profesional yang kapabel di bidang tersebut. Karena semakin dini kelainan ini dikenali, semakin “mudah” pula intervensi yang dapat dilakukan, sehingga anak tidak terlanjur larut dalam kondisi yang lebih parah.
Apa yang dapat dilakukan
• Adanya komunikasi dan pemahaman yang sama mengenai anak disleksia antara orang tua dan guru
• Anak duduk di barisan paling depan di kelas
• Guru senantiasa mengawasi / mendampingi saat anak diberikan tugas, misalnya guru meminta dibuka halaman 15, pastikan anak tidak tertukar dengan membuka halaman lain, misalnya halaman 50
• Guru dapat memberikan toleransi pada anak disleksia saat menyalin soal di papan tulis sehingga mereka mempunyai waktu lebih banyak untuk menyiapkan latihan (guru dapat memberikan soal dalam bentuk tertulis di kertas)
• Anak disleksia yang sudah menunjukkkan usaha keras untuk berlatih dan belajar harus diberikan penghargaan yang sesuai dan proses belajarnya perlu diseling dengan waktu istirahat yang cukup.
• Melatih anak menulis sambung sambil memperhatikan cara anak duduk dan memegang pensilnya. Tulisan sambung memudahkan murid membedakan antara huruf yang hampir sama misalnya ’b’ dengan ’d’. Murid harus diperlihatkan terlebih dahulu cara menulis huruf sambung karena kemahiran tersebut tidak dapat diperoleh begitu saja. Pembentukan huruf yang betul sangatlah penting dan murid harus dilatih menulis huruf-huruf yang hampir sama berulang kali. Misalnya huruf-huruf dengan bentuk bulat: ”g, c, o, d, a, s, q”, bentuk zig zag: ”k, v, x, z”, bentuk linear: ”j, t, l, u, y”, bentuk hampir serupa: ”r, n, m, h”.
• Guru dan orang tua perlu melakukan pendekatan yang berbeda ketika belajar matematika dengan anak disleksia, kebanyakan mereka lebih senang menggunakan sistem belajar yang praktikal. Selain itu kita perlu menyadari bahwa anak disleksia mempunyai cara yang berbeda dalam menyelesaikan suatu soal matematika, oleh karena itu tidak bijaksana untuk ”memaksakan” cara penyelesaian yang klasik jika cara terebut sukar diterima oleh sang anak.
• Aspek emosi. Anak disleksia dapat menjadi sangat sensitif, terutama jika mereka merasa bahwa mereka berbeda dibanding teman-temannya dan mendapat perlakukan yang berbeda dari gurunya. Lebih buruk lagi jika prestasi akademis mereka menjadi demikian buruk akibat ”perbedaan” yang dimilikinya tersebut. Kondisi ini akan membawa anak menjadi individu dengan ”self-esteem” yang rendah dan tidak percaya diri. Dan jika hal ini tidak segera diatasi akan terus bertambah parah dan menyulitkan proses terapi selanjutnya. Orang tua dan guru seyogyanya adalah orang-orang terdekat yang dapat membangkitkan semangatnya, memberikan motivasi dan mendukung setiap langkah usaha yang diperlihatkan anak disleksia. Jangan sekali-sekali membandingkan anak disleksia dengan temannya, atau dengan saudaranya yang tidak disleksia.
Referensi :
• J.H. Menkes, H.B. Sarnat B.L. Maria (2005). Learning disabilities, dalam: JH. Menkes, HB. Sarnat (penyunting). Child neurology, edisi ke-7. Lippincott Williams and Wilkins, Philadelphia.
• Sally, Shaywitz, Bennett (2006). Dyslexia, dalam: KF. Swaiman, S. Ashwal, DM. Ferreier (penyunting). Pediactric neurology principles and practice, volume 1, edisi ke-4, Mosby, Philadelphia
• S. Devaraj, S. Roslan (2006). Apa itu disleksia, panduan untuk ibu bapa, guru, dan kaunselor, dalam S. Amirin (penyunting). PTS Profesional, Kuala Lumpur.
• G. Reid (2004). Dyslexia: A complete guide for parents. John Wiley and Sons, Ltd, England
• R. Frank (2002). The secret life of dyslexic child, a practical guide for parents and educators. The Philip Lief Group, Inc, 2002.
Terapi Baru bagi Penderita Disleksia
JAKARTA - Ahli medis menemukan terapi baru bagi para penderita disleksia alias kesulitan membaca dan menulis. Anak yang menderita disleksia sama sekali tidak bodoh. Sebab banyak penderita disleksia yang akhirnya menjadi orang sukses.
Kemampuan membaca dan menulis kerap menjadi acuan para orangtua dalam mengontrol kepandaian anaknya. ”Sudah bisa baca apa belum?” Demikian pertanyaan yang sering diajukan kepada seorang anak yang sudah mulai memasuki usia sekolah. Anak yang sudah bersekolah dan belum bisa lancar membaca dianggap bodoh atau tertinggal. Padahal bisa saja anak itu menderita disleksia, yakni gangguan membaca dan menulis akibat kelainan pada otak.
Jika pada anak normal kemampuan membaca sudah muncul sejak usia enam atau tujuh tahun, tidak demikian halnya dengan pasien disleksia. Sampai usia 12 tahun kadang mereka masih belum lancar membaca dan menulis. Bahkan sampai usia dewasa sekalipun mereka masih mengalami gangguan keduanya. Biasanya gangguan ini berupa kesalahan eja yang dilakukan terus-menerus secara konsisten. Seperti misalnya kata ”gajah” ducapkan menjadi ”gagah”. Atau kata ”pelajaran” menjadi ”perjalanan”. Belum pernah dicatat berapa tepatnya penderita disleksia di Indonesia karena memang kebanyakan orang tua tidak menyadarinya. Namun di Amerika Serikat (AS) sendiri ada lebih dari 40 juta orang, baik dewasa maupun anak-anak.
Kontroversial
Seorang jutawan pebisnis AS, Wynford Dore, juga mempunyai seorang anak perempuan yang menderita disleksia. Bahkan anak tersebut mulai mengalami depresi dan frustasi akibat tak bisa membaca dan menulis seperti anak seusianya. Akhirnya Dore mendirikan Dore Achievement Centers, sebuah yayasan yang merekrut semua ahli psikologi AS untuk khusus mempelajari ihwal disleksia. Yayasan ini akhirnya menemukan sebuah metode pengobatan yang terbilang baru dan kontroversial. Metode yang diklaim sudah membantu sebanyak 16.000 penderita disleksia sampai Inggris dan Australia ini berteori bahwa anak disleksia memiliki kekurangan pada aktivitas bagian otak yang bernama serebelum. Berlokasi di dasar otak, serebelum mengandung 50 persen sel saraf otak. Metode yang diajukan Dore adalah merancang latihan rutin setiap individu untuk menstimulasi daerah otak ini dengan sejumlah pembelajaran. Riset ini didukung oleh sejumlah ahli neurologi dari seantero AS. Namun tak semua setuju dengan metode tersebut.
”Apakah memang ada bukti bahwa aktivitas serebelum terlibat dalam kemampuan anak untuk membaca atau setidaknya menjadi pembaca yang lebih baik? Saya belum melihat bukti yang pasti,” komentar Prof. Sallu Shaywitz, psikolog dari Yale University, penulis Overcoming Dyslexia dan salah seorang ahli pengobatan disleksia seperti yang dilansir ABCNews Online baru-baru ini.
Shaywitz juga memperingatkan bahwa dibandingkan dengan terapi lain, program Dore menawarkan metode yang kurang penting. Cara seperti melakukan latihan untuk mengatasi masalah membaca sudah dipakai sejak lama, bahkan beberapa dekade silam. Versi terbaru dari teknik ini membutuhkan standar yang lebih tinggi.
Namun Dore berkeras bahwa terapi pengobatannya lumayan berhasil baik. ”Klien kami sering mengatakan bahwa mereka tak lagi mengalami gejala disleksia, mereka berhasil diobati,” ujarnya. Contoh pasien mereka adalah Michael dan Adam, anak usia 12 dan tujuh tahun yang mengikuti program tersebut selama 13 bulan dan telah menghabiskan biaya sekitar 4.000 dolar Amerika. Mereka mengikuti latihan seperti berdiri di atas papan bergoyang, melempar kantung dan mengayunkan bola selama sepuluh menit dua kali sehari. Kemampuan mereka memang mengalami peningkatan, terutama dalam hal membaca, sains dan matematika, subjek pelajaran yang kerap kurang mampu dipahami penderita disleksia. Menurut orang tua mereka, kepercayaan diri anak-anaknya juga mulai meningkat setelah mengikuti terapi.
Sebenarnya, apa itu disleksia? Seseorang yang menderita disleksia mengalami kesulitan dalam belajar membaca. Kelainan ini mungkin disebabkan oleh ketidakmampuan dalam menghubungkan antara lisan dan tertulis, atau kesulitan mengenal hubungan antara suara dan kata tertulis. Anak yang menderita disleksia yang belum diketahui, dapat merasa rendah diri karena kesulitan yang dialami dalam mengejar pelajaran dengan kawan-kawan sebaya. Kadang-kadang orang salah menduga bahwa anak yang menderita disleksia juga cacat jiwa.
Mayoritas Lelaki
Kalau seorang anak ditemui mulai punya kebiasaan membaca terlalu cepat hingga salah mengucapkan kata atau bahkan terlalu lambat dan terputus, maka itu adalah gejala disleksia. Sampai sekarang masih belum diketahui secara pasti apa penyebab gangguan ini. Yang jelas sebagian besar neurolog berpendapat ini merupakan faktor saraf atau otak, sama sekali bukan karena anak itu bodoh atau bahkan idiot seperti mayoritas pendapat orang.
Istilah disleksia berasal dari bahasa Yunani, yakni ”dys” yang berarti ”sulit dalam” dan lex (berasal dari legein, yang artinya ”berbicara”). Jadi, menderita disleksia berarti menderita kesulitan yang berhubungan dengan kata atau simbol-simbol tulis. Walau tidak menjalani pengobatan khusus, seorang penderita disleksia tidak akan selamanya menderita gangguan membaca dan menulis. Ketika pertumbuhan otak dan sel otaknya sudah sempurna, ia akan dapat mengatasinya.
Yang unik, sebagian besar penderita disleksia adalah kaum lelaki. Dr. Michael Rutter dari King’s College, London membuktikan bahwa jumlah murid lelaki di sekolah yang menderita disleksia setidaknya dua kali jumlah murid perempuan. Rutter dan rekan telah menganalisis lebih dari 10.000 anak-anak di Selandia Baru yang diikutkan dalam uji membaca standar. Usia anak-anak itu berkisar antara 7-15 tahun. Disleksia ditemukan pada 18 hingga 22 persen murid lelaki. Sedangkan pada murid perempuan hanya sekitar 8-13 persen saja.
Masih perlu dilakukan riset lanjutan untuk mengetahui penyebabnya. Namun berdasar diagnosis, gangguan kemampuan membaca pada anak lelaki disebabkan oleh kecenderungan mereka untuk bertingkah aneh-aneh dalam kelas ketika merasa frustasi pada pelajaran. Hasil temuan Rutter ini dipublikasikan dalam Journal of the American Medical Association, edisi terbaru.
Tapi kesimpulan tersebut ditepis oleh Sheldon Horowitz, direktur National Center for Learning Disabilities, berkomentar bahwa anak lelaki sesungguhnya tidak cenderung menderita disleksia.
Adakah yg tau atau punya anak disleksia????
Subscribe to:
Posts (Atom)